KEDOM MATA LAMPUNG.COM – BANDAR LAMPUNG – Peran generasi muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi perhatian dalam kegiatan “Dialog Pemuda dan Politik, Dalam Berbangsa dan Bernegara” yang diinisiasi oleh Anggota MPR RI/DPD RI Dr. H. Bustami Zainudin, S.Pd., M.H. Senin (5/10/2026) di Rumah Aspirasi, Kedatangan Bandar Lampung.
Kegiatan tersebut mempertemukan sejumlah anggota elemen organisasi kepemudaan dan mahasiswa, di antaranya PMII, HMI, BEM Politeknik Negeri Lampung (Polinela), alumni Unila, Alumni Uin Raxen Intan serta Pengurus DPD PSI Kota Bandar Lampung.
Dialog tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan pemuda untuk membahas posisi serta peran generasi muda di tengah dinamika politik dan pembangunan bangsa yang terus berkembang.
Anggota MPR RI/DPD RI Dr. H. Bustami Zainudin menegaskan bahwa mahasiswa saat ini memiliki posisi strategis sebagai bagian dari generasi muda yang nantinya akan meneruskan estafet kepemimpinan dan pembangunan bangsa ke depannya.
“ Peran mahasiswa sebagai pemuda saat ini adalah sebagai generasi muda yang nantinya akan memegang tongkat estafet pembangunan bangsa dan negara, ” ujar Bustami.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi kelompok yang memahami persoalan akademik, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial, kebangsaan, pemerintahan dan politik.
Pemahaman tersebut dinilai penting agar generasi muda mampu mengambil peran secara konstruktif dalam menentukan arah bangsa di masa mendatang.
Sementara itu, Ketua DPD PSI Kota Bandar Lampung Randy Aditya GG menilai politik merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
Karena itu, menurut Randy, generasi muda saat ini perlu memahami politik secara baik sebelum menentukan pilihan untuk terlibat langsung maupun mengambil jalur profesi lainnya.
“ Politik tidak dapat dihindari, tetapi kita harus ikuti dan kita pahami. Baru kemudian anak muda saat ini yang memutuskan apakah akan masuk di dunia politik, atau menjadi pegawai atau karyawan, ataukah akan menjadi pengusaha atau entrepreneur,” kata Randy.
Randy menegaskan, pilihan profesi tidak serta-merta membuat seseorang terlepas dari dinamika politik. Sebab, berbagai kebijakan politik dan pemerintahan pada akhirnya akan bersinggungan dengan kehidupan masyarakat, termasuk dunia usaha, pekerjaan, pendidikan maupun kehidupan sosial.
“ Kelak di kemudian hari kita akan tetap mengikuti dunia politik. Yang penting saat ini ditanamkan bagi semua mahasiswa, pemuda, generasi muda, paling utama bahwa kita harus peduli dengan bangsa dan negara,” tegasnya.
Randy juga mengingatkan agar perbedaan dalam pilihan politik tidak menjadi alasan bagi generasi muda saat ini untuk saling bermusuhan.
Menurut Randy, demokrasi itu justru harus menjadi ruang untuk mempertemukan perbedaan gagasan, bukan memecah persatuan.
“ Jangan sampai kita terpecah belah, apalagi sampai bermusuhan karena beda pandangan politik, politik riang gembira, legowo,” ujar Randy.
Dialog yang diinisiasi oleh Dr. H. Bustami Zainudin tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya keterlibatan generasi muda dalam berbagai ruang publik, termasuk organisasi kemahasiswaan, komunitas, pemerintahan, dunia usaha maupun partai politik.
Generasi muda dinilai bukan sekadar objek dalam kehidupan politik, tetapi memiliki kesempatan untuk menjadi subjek yang akan ikut menentukan arah pembangunan bangsa.
Melalui forum dialog semacam ini, mahasiswa dan pemuda diharapkan tidak hanya memahami politik dari sisi perebutan kekuasaan, tetapi juga melihat politik sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, menjaga persatuan dan kesatuan juga dapat berkontribusi terhadap pembangunan.
Pada akhirnya, perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi. Namun, kepentingan bangsa dan negara harus ditempatkan lebih tinggi daripada kepentingan kelompok maupun pilihan politik sesaat. (***)















