KEDOM MATA LAMPUNG.COM – BANDAR LAMPUNG, 28 Augustus 2026 – Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Way Halim Permai, Way Halim #003, yang beralamat di Jalan Pulau Tabuan No. 18 C, Kelurahan Way Halim Permai, Kecamatan Way Halim, Kota Bandar Lampung, memberikan klarifikasi terkait temuan makanan berupa ayam sempul yang diduga sudah tidak layak konsumsi di SDN 1 Perumnas Way Halim.
Sebelumnya, adanya temuan ayam sempul yang diduga basi di lingkungan SDN 1 Perumnas Way Halim menimbulkan perhatian, khususnya terkait kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Temuan tersebut kemudian menjadi sorotan karena makanan MBG dikonsumsi oleh para siswa sehingga aspek keamanan dan kualitas pangan menjadi hal yang sangat penting.
Menanggapi persoalan tersebut, pihak pengelola Dapur MBG SPPG Way Halim Permai menyampaikan sejumlah sanggahan. Pengelola menegaskan bahwa setiap makanan yang diproduksi dan akan didistribusikan kepada penerima manfaat terlebih dahulu melalui proses pengecekan dan pengawasan.
Menurut pengelola, makanan yang akan didistribusikan tidak langsung dikirimkan ke sekolah. Sebelum proses distribusi dilakukan, makanan terlebih dahulu diperiksa untuk memastikan kondisi dan kelayakannya. Selain pengecekan makanan, pihak dapur juga menyebut terdapat proses food test yang dilakukan oleh tim gizi yang berada di dapur MBG.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan makanan yang keluar dari dapur berada dalam kondisi yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
“Semua makanan yang akan didistribusikan selalu dicek terlebih dahulu dan dilakukan test food oleh tim gizi yang ada di dapur MBG,” demikian penjelasan pihak pengelola Dapur MBG SPPG Way Halim Permai.
Pengelola Mengaku Tidak Mendapat Laporan
Pihak pengelola juga menyampaikan bahwa sampai dengan adanya informasi mengenai temuan ayam sempul yang diduga basi di SDN 1 Perumnas Way Halim, mereka mengaku tidak menerima laporan secara langsung mengenai persoalan tersebut.
Pengelola menilai, apabila ditemukan makanan yang mengalami perubahan kondisi atau diduga tidak layak konsumsi, laporan seharusnya dapat segera disampaikan kepada pihak dapur agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penelusuran.
Hal tersebut penting karena makanan yang diproduksi dalam jumlah besar dan didistribusikan ke sekolah-sekolah memerlukan sistem pengawasan yang berkesinambungan. Dengan adanya laporan yang cepat, pihak dapur dapat melakukan pengecekan terhadap makanan yang dimaksud, termasuk menelusuri proses produksi, pengemasan, pengiriman hingga penerimaan makanan di sekolah.
Tidak adanya laporan kepada pihak dapur, menurut pengelola, membuat mereka tidak dapat secara langsung melakukan pemeriksaan terhadap makanan yang ditemukan di sekolah tersebut.
Pengelola juga menegaskan bahwa pihaknya tidak mengabaikan persoalan kualitas makanan. Sebaliknya, pengecekan sebelum makanan didistribusikan disebut menjadi bagian dari prosedur yang diterapkan di dapur MBG.
Makanan MBG Tidak Dianjurkan Dibawa Pulang
Selain menjelaskan mengenai proses pengecekan makanan sebelum distribusi, pihak pengelola Dapur MBG SPPG Way Halim Permai juga menyoroti persoalan tata kelola makanan setelah makanan tersebut diterima oleh penerima manfaat.
Pengelola menjelaskan bahwa sesuai petunjuk teknis yang menjadi acuan pelaksanaan program, makanan MBG tidak diperuntukkan untuk dibawa pulang. Makanan tersebut memiliki tata cara distribusi dan pengelolaan tersendiri yang bertujuan menjaga kualitas makanan sejak keluar dari dapur hingga dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Menurut pihak pengelola, kualitas makanan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor setelah makanan meninggalkan dapur. Salah satunya adalah cara penyimpanan, suhu, lama makanan berada di luar kondisi distribusi, serta cara makanan tersebut diperlakukan setelah diterima.
Karena itu, pihak dapur menegaskan bahwa makanan MBG yang dibawa pulang berada di luar tata kelola distribusi yang telah ditetapkan.
“Apabila ada yang dibawa pulang, pihak MBG tidak menjamin kualitas makanan tersebut karena distribusi makanan perlu tata cara dan tata kelola tersendiri untuk menjamin kualitas makanan tersebut tidak terjadi perubahan,” jelas pihak pengelola.
Pengelola menambahkan, apabila makanan sudah dibawa pulang dan kemudian terjadi perubahan kondisi, pihak dapur tidak dapat memastikan faktor yang menyebabkan perubahan tersebut.
Hal ini, menurut pengelola, berbeda dengan makanan yang dikonsumsi sesuai mekanisme distribusi yang telah ditentukan. Makanan yang didistribusikan melalui jalur resmi berada dalam rangkaian proses yang dapat dipantau, mulai dari proses produksi, pengecekan, pengemasan hingga pendistribusian.
Pentingnya Penelusuran untuk Memastikan Penyebab
Terkait temuan ayam sempul yang diduga basi, pihak pengelola berharap persoalan tersebut dapat dilihat secara menyeluruh dan tidak langsung menyimpulkan bahwa perubahan kualitas makanan terjadi di dapur MBG.
Pengelola menyatakan bahwa perlu dilakukan penelusuran untuk mengetahui kapan dan di mana perubahan kondisi makanan tersebut terjadi.
Penelusuran dapat mencakup kondisi makanan ketika keluar dari dapur, proses pengiriman, waktu makanan diterima di sekolah, hingga bagaimana makanan tersebut disimpan atau diperlakukan sebelum dikonsumsi.
Hal tersebut menjadi penting karena makanan merupakan produk yang kualitasnya dapat berubah apabila tidak ditangani sesuai prosedur. Terlebih makanan yang telah selesai diproduksi harus melalui proses distribusi dengan pengelolaan tertentu untuk mempertahankan kualitasnya.
Pihak pengelola menegaskan bahwa mereka siap memberikan penjelasan mengenai prosedur yang diterapkan di dapur MBG apabila diperlukan untuk mengklarifikasi temuan tersebut.
Pengawasan Keamanan Pangan Tetap Menjadi Perhatian
Program Makan Bergizi Gratis merupakan program yang menyasar penerima manfaat dalam jumlah besar, termasuk anak-anak sekolah. Oleh karena itu, keamanan dan kualitas makanan menjadi salah satu aspek yang harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak yang terlibat.
Dalam pelaksanaannya, bukan hanya pihak dapur yang memiliki peran. Sekolah sebagai lokasi penerima makanan, pihak yang melakukan distribusi, serta penerima manfaat juga memiliki peran dalam memastikan makanan dikelola sesuai ketentuan.
Pihak pengelola Dapur MBG SPPG Way Halim Permai menyampaikan bahwa pengecekan sebelum distribusi dan food test oleh tim gizi merupakan bagian dari upaya internal untuk memastikan makanan yang dikirim dalam kondisi baik.
Namun, ketika makanan telah berada di luar dapur, pengelolaan selanjutnya juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas makanan hingga waktu konsumsi.
Karena itu, pihak pengelola kembali mengingatkan pentingnya mengikuti tata kelola distribusi dan ketentuan mengenai makanan MBG, termasuk ketentuan agar makanan tidak dibawa pulang.
Pengelola Minta Persoalan Tidak Disimpulkan Sepihak
Pihak Dapur MBG SPPG Way Halim Permai menegaskan bahwa adanya temuan ayam sempul yang diduga basi di SDN 1 Perumnas Way Halim perlu ditelusuri secara objektif.
Pengelola menyatakan bahwa mereka tidak memperoleh laporan mengenai temuan tersebut sehingga belum dapat melakukan pemeriksaan langsung terhadap makanan yang dimaksud maupun memastikan penyebab perubahan kondisi makanan.
Menurut pengelola, laporan secara cepat sangat diperlukan apabila terdapat makanan yang diduga mengalami perubahan kualitas. Dengan demikian, pihak dapur dapat segera mengambil langkah pemeriksaan dan evaluasi.
Pihak pengelola juga menegaskan bahwa makanan yang keluar dari dapur telah melalui pengecekan terlebih dahulu dan dilakukan food test oleh tim gizi. Karena itu, temuan di lapangan perlu dikaji dengan melihat seluruh rangkaian proses, bukan hanya berdasarkan kondisi makanan setelah berada di sekolah.
Klarifikasi tersebut sekaligus menjadi penjelasan dari pihak pengelola mengenai mekanisme pengawasan makanan MBG yang mereka jalankan.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, pihak pengelola berharap persoalan temuan ayam sempul yang diduga basi dapat ditelusuri secara menyeluruh berdasarkan fakta dan rangkaian proses distribusi makanan. Evaluasi bersama dinilai penting agar apabila ditemukan adanya persoalan dalam penyelenggaraan MBG, penyebabnya dapat diketahui secara tepat dan langkah perbaikan dapat segera dilakukan.
Pihak pengelola juga menekankan pentingnya komunikasi dan pelaporan apabila ditemukan makanan yang diduga mengalami perubahan kualitas. Dengan laporan yang cepat, pemeriksaan dapat dilakukan sehingga tidak terjadi kesimpulan sepihak mengenai sumber atau penyebab perubahan makanan.
Pada akhirnya, kualitas dan keamanan makanan MBG menjadi tanggung jawab bersama seluruh pihak yang terlibat dalam rantai penyelenggaraan program, mulai dari dapur, proses distribusi, sekolah hingga penerima manfaat. Kepatuhan terhadap tata kelola yang telah ditetapkan menjadi salah satu kunci untuk memastikan makanan dapat dikonsumsi dalam kondisi yang aman dan sesuai tujuan program.
Bahan Makanan Disimpan Sesuai Jenis dan Segera Diolah
Selain memastikan makanan yang telah selesai diproduksi melalui proses pengecekan dan food test, pihak pengelola Dapur MBG SPPG Way Halim Permai juga menegaskan bahwa bahan makanan yang digunakan dalam proses produksi mendapat perhatian sejak awal.
Pengelola menyampaikan bahwa bahan makanan yang belum langsung diolah akan disimpan sementara di tempat yang telah ditentukan sesuai dengan jenis bahan makanan tersebut. Penempatan bahan makanan dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing bahan agar kualitas dan kondisinya tetap terjaga sebelum masuk ke tahap pengolahan.
Pihak pengelola juga menyatakan bahwa bahan makanan sebisa mungkin tidak disimpan terlalu lama. Setelah melalui proses penerimaan dan pemeriksaan, bahan makanan akan segera diolah menjadi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang siap didistribusikan kepada para penerima manfaat.
Menurut pengelola, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas bahan makanan sejak diterima di dapur hingga menjadi makanan siap konsumsi. Pengelolaan bahan makanan secara tepat dinilai penting untuk mencegah terjadinya perubahan kondisi yang dapat memengaruhi kualitas makanan.
Dengan demikian, pengelola menegaskan bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan setelah makanan selesai dimasak, tetapi juga dimulai dari tahap penerimaan dan penyimpanan bahan makanan. Setiap tahapan, mulai dari bahan makanan diterima, disimpan apabila diperlukan, diolah, hingga makanan siap didistribusikan, menjadi bagian dari proses yang diperhatikan oleh pihak dapur.
Pihak pengelola berharap penjelasan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai upaya yang dilakukan Dapur MBG SPPG Way Halim Permai dalam menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat.
Pengelola juga kembali menegaskan bahwa apabila terdapat temuan makanan yang diduga mengalami perubahan kualitas setelah sampai di sekolah, pihaknya mengharapkan adanya laporan secara langsung agar dapat segera dilakukan pemeriksaan dan penelusuran terhadap makanan maupun proses distribusinya.(Red)















