{"id":857,"date":"2026-08-12T01:22:26","date_gmt":"2026-08-12T01:22:26","guid":{"rendered":"https:\/\/kedommatalampung.com\/?p=857"},"modified":"2026-08-12T01:22:26","modified_gmt":"2026-08-12T01:22:26","slug":"nasib-tragis-seorang-wanita-tinggal-tengkorak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/2026\/08\/12\/nasib-tragis-seorang-wanita-tinggal-tengkorak\/","title":{"rendered":"Nasib tragis seorang wanita tinggal tengkorak"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kedom mata lampung com &#8211;<\/strong> Morowali ,Nasib pilu menimpa seorang wanita muda bernama Paramitha Titania Anggelica (28).<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eIa ditemukan tinggal tengkorak usai dilaporkan hilang selama 2 tahun tepatnya pada Juli 2024 lalu.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eWanita yang akrab disapa Mitha Anggelica itu ditemukan dalam jurang di Desa Kalono, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eBelakangan terungkap, korban dibunuh oleh sopir travel Alber alias Latu bin Markus Pacca (37) lantaran sakit hati.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eDirangkum Tribun-Timur, kasus bermula saat Mitha Anggelica dari rumahnya Bottodongga, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo hendak pergi ke tempat kerjanya di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, pada Senin (22\/7\/2024).<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eIa menggunakan jasa mobil travel Avanza hitam yang disopiri oleh pelaku Alber.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eDi tengah perjalanan, korban berkomunikasi dengan orang tuanya.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eLewat sambungan telepon Mitha Anggelica menyebut pelaku jelek dengan kata-kata nabohongika ini sopir (jelek saya lihat ini sopir).<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200ePercakapan tersebut ternyata didengar oleh Alber yang membuatnya sakit hati.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eTanpa disadari korban, pelaku berniat membunuh korban di tengah perjalanan.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eAlber dengan tega memukul leher Mitha Anggelica menggunakan kunci roda mobil sebanyak satu kali hingga tewas.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eAksi pelaku tidak sampai di situ, ia kemudian memasukkan jasad korban ke dalam karung lalu dibungkus dengan hammock.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eJasad pegawai PT Indonesia Morowali Industrial Park ini dibuang ke dalam jurang di Desa Kalono, Kecamatan Bungku, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eKapolres Wajo, AKBP Douglas Mahendrajaya menjelaskan, komunikasi terakhir keluarga dengan korban terjadi pada Selasa (23\/7\/2024).<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eKala itu, Mitha Anggelica mengirim pesan sudah hampir tiba di Kabupaten Morowali dan menjadi komunikasi terakhir sebelum ponsel korban tidak aktif.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200ePada awal Agustus 2024, korban dinyatakan hilang usai keluarga melapor ke Polres Wajo.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Kemudian pada tanggal 5 Agustus 2026 atau sekitar dua tahun, Polres Wajo mendapatkan informasi terhadap orang yang diduga pelaku, yang bersangkutan merupakan orang terakhir yang bersama dengan korban,&#8221; katanya dikutip dari siaran langsung Facebook Tribun Timur Makassar.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200ePelaku Alber kemudian berhasil ditangkap di rumah kerabatnya Dusun Mao, Desa Buttuada, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eDi harapan polisi, Alber mengakui telah membunuh dan membuang jasad korban.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Pelaku juga mengambil barang milik korban dua unit handphone milik korban, dompet berisi dua ATM, BRI dan BNI senilai sekitar Rp62 juta,&#8221; urai AKBP Douglas.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Sementara motifnya karena sakit hati dari kata-kata korban,&#8221; tambahnya.(Red<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kedom mata lampung com &#8211; Morowali ,Nasib pilu menimpa seorang wanita muda <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/2026\/08\/12\/nasib-tragis-seorang-wanita-tinggal-tengkorak\/\" title=\"Nasib tragis seorang wanita tinggal tengkorak\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":858,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=857"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":859,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/857\/revisions\/859"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/858"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=857"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}