{"id":559,"date":"2026-07-25T02:53:23","date_gmt":"2026-07-25T02:53:23","guid":{"rendered":"https:\/\/kedommatalampung.com\/?p=559"},"modified":"2026-07-25T02:53:23","modified_gmt":"2026-07-25T02:53:23","slug":"81-tahun-merdeka-indonesia-kaya-raya-rakyat-masih-sengsara-terjajah-korupsi-oligarki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/2026\/07\/25\/81-tahun-merdeka-indonesia-kaya-raya-rakyat-masih-sengsara-terjajah-korupsi-oligarki\/","title":{"rendered":"\u200e81 Tahun Merdeka: Indonesia Kaya Raya, Rakyat Masih Sengsara Terjajah Korupsi &#038; Oligarki"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kedom mata lampung com<\/strong> -BANDAR LAMPUNG \u2013 Hitungan mundur menuju peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81 semakin dekat. Namun, di tengah semangat menyambut tanggal 17 Agustus, keprihatinan mendalam justru menyelimuti hati banyak anak bangsa. Janji kemerdekaan untuk mewujudkan keadilan sosial seolah masih menjadi angan-angan jauh dari kenyataan.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eIndonesia dikenal sebagai negeri gemah ripah loh jinawi, kaya raya dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Namun, ironi yang terjadi adalah kekayaan tersebut bukan dinikmati oleh rakyat banyak, melainkan hanya berputar di kalangan segelintir kaum oligarki dan antek-anteknya para pejabat. Sementara itu, mayoritas masyarakat masih harus bergelut dengan hidup yang serba pas-pasan dan penuh kesengsaraan.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eKorupsi Merajalela, Sila Kelima Terabaikan<\/p>\n<p>\u200ePenyakit kronis bangsa berupa korupsi masih merajalela di mana-mana. Praktik kotor ini seolah menjadi tembok penghalang terbesar bagi terwujudnya Sila Kelima Pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200e&#8221;Sudah 81 tahun kita merdeka, namun nasib rakyat belum berubah secara nyata. Kita bangsa yang kuat, gigih, dan tak kenal takut, tapi kenapa kita masih hidup dalam ketidakadilan? Kekayaan bumi pertiwi dihisap oleh segelintir orang, sementara rakyat kecil tetap menderita,&#8221; ujar pengamat sosial.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eMerdeka dari Penjajah Asing, Masih Terjajah Sesama<\/p>\n<p>\u200ePuncak kepahitan sejarah ini adalah kenyataan pahit bahwa setelah 81 tahun, rakyat Indonesia seolah masih berada dalam cengkeraman penjajahan, bukan lagi oleh bangsa asing, melainkan oleh bangsanya sendiri. Ketidakadilan merata, hak-hak dasar tidak terpenuhi, dan celah jurang pemisah antara si kaya dan si miskin makin melebar.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200eHarapan besar kini tersemat: semangat kemerdekaan ke-81 mampu membangunkan kesadaran kolektif para pemimpin agar kembali ke haluan negara. Agar kekayaan alam benar-benar menjadi milik rakyat, korupsi diberantas sampai ke akar-akarnya, dan keadilan sosial bukan hanya sekadar tulisan di lambang negara, tapi terasa nyata di setiap jengkal kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200e(Redaksi Kedom Mata Lampung)<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kedom mata lampung com -BANDAR LAMPUNG \u2013 Hitungan mundur menuju peringatan Hari <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/2026\/07\/25\/81-tahun-merdeka-indonesia-kaya-raya-rakyat-masih-sengsara-terjajah-korupsi-oligarki\/\" title=\"\u200e81 Tahun Merdeka: Indonesia Kaya Raya, Rakyat Masih Sengsara Terjajah Korupsi &#038; Oligarki\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":560,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-559","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/559","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=559"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/559\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":561,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/559\/revisions\/561"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/560"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=559"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=559"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=559"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=559"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}