{"id":551,"date":"2026-07-24T13:00:50","date_gmt":"2026-07-24T13:00:50","guid":{"rendered":"https:\/\/kedommatalampung.com\/?p=551"},"modified":"2026-07-24T13:00:50","modified_gmt":"2026-07-24T13:00:50","slug":"sejarah-kolonial-di-masa-penjajahan-belanda-apakah-wartawan-berpihak-pada-penjajah-atau-garda-terdepan-rakyat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/2026\/07\/24\/sejarah-kolonial-di-masa-penjajahan-belanda-apakah-wartawan-berpihak-pada-penjajah-atau-garda-terdepan-rakyat\/","title":{"rendered":"Sejarah Kolonial: Di Masa Penjajahan Belanda, Apakah Wartawan Berpihak pada Penjajah atau Garda Terdepan Rakyat?"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kedom mata lampung com &#8211;<\/strong> BANDAR LAMPUNG ,Sejarah pers di masa kolonial Belanda menyimpan dinamika yang unik dan penuh pergolakan. Sering muncul pertanyaan: Bagaimana sebenarnya sikap para wartawan saat itu? Apakah mereka sekadar alat propaganda yang berpihak pada Pemerintah Hindia Belanda, atau justru menjadi garda terdepan dalam menyuarakan kebenaran dan perjuangan rakyat?<\/p>\n<p>\u200eMenurut catatan sejarah kolonial, dunia pers di Nusantara terbagi menjadi dua arus besar yang memiliki karakter dan tujuan sangat berbeda:<\/p>\n<p>\u200e1. Pers Kolonial: Suara Penjajah<\/p>\n<p>\u200ePada awalnya, surat kabar yang terbit seperti Bataviasche Nouvelles dan media berbahasa Belanda lainnya sepenuhnya berada di bawah kendali penguasa. Wartawan yang bekerja di sini umumnya berkebangsaan Belanda atau Eropa. Mereka menyajikan berita yang menonjolkan kebesaran pemerintah kolonial, melindungi kepentingan perusahaan dagang (VOK), serta menyembunyikan kebijakan yang merugikan pribumi. Dalam hal ini, mereka berpihak penuh pada kepentingan penjajah. Kebebasan pers sangat dibatasi melalui berbagai aturan ketat.<\/p>\n<p>\u200e2. Pers Pergerakan: Garda Terdepan Rakyat<\/p>\n<p>\u200eSeiring berjalannya waktu, muncul pers yang didirikan oleh kaum pribumi dan tokoh pergerakan nasional. Di sini, wartawan berperan jauh lebih berani dan berbahaya bagi kolonial. Mereka bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pejuang pena. Melalui tulisan-tulisan tajam di media seperti De Express, Mimbar Indonesia, atau Pewarta Oetara, mereka membuka mata massa tentang ketidakadilan, kemiskinan akibat penjajahan, dan menanamkan semangat persatuan.<\/p>\n<p>\u200eMereka menjadi garda terdepan yang menyuarakan kebenaran, meski harus menghadapi risiko berat: tulisan dilarang, percetakan disegel, hingga pengarang dan wartawan ditangkap, dipenjara, atau diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.<\/p>\n<p>\u200eKesimpulan Sejarah<\/p>\n<p>\u200eJawabannya tergantung pada kepemilikan dan tujuannya. Pers yang berafiliasi dengan penguasa memang berpihak pada Belanda. Namun, pers yang lahir dari kesadaran nasional justru menjadi benteng paling kuat dan garda terdepan dalam membangun kesadaran kebangsaan melawan penindasan<\/p>\n<p>\u200eSejarah ini menjadi bukti bahwa sejak zaman dahulu, jurnalisme yang sejati selalu berdiri di garis depan membela kebenaran dan suara rakyat yang tertindas.(Heru Subono)<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n<p>\u200e<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kedom mata lampung com &#8211; BANDAR LAMPUNG ,Sejarah pers di masa kolonial <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/2026\/07\/24\/sejarah-kolonial-di-masa-penjajahan-belanda-apakah-wartawan-berpihak-pada-penjajah-atau-garda-terdepan-rakyat\/\" title=\"Sejarah Kolonial: Di Masa Penjajahan Belanda, Apakah Wartawan Berpihak pada Penjajah atau Garda Terdepan Rakyat?\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":552,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-551","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/551","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=551"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/551\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":553,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/551\/revisions\/553"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/552"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=551"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=551"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=551"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=551"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}