{"id":251,"date":"2026-07-13T08:59:55","date_gmt":"2026-07-13T08:59:55","guid":{"rendered":"https:\/\/kedommatalampung.com\/?p=251"},"modified":"2026-07-13T08:59:55","modified_gmt":"2026-07-13T08:59:55","slug":"kisruh-antar-penegak-hukum-korupsi-saling-tangkap-apakah-korupsi-benar-benar-bisa-hilang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/2026\/07\/13\/kisruh-antar-penegak-hukum-korupsi-saling-tangkap-apakah-korupsi-benar-benar-bisa-hilang\/","title":{"rendered":"KISRUH ANTAR PENEGAK HUKUM KORUPSI: SALING TANGKAP, APAKAH KORUPSI BENAR-BENAR BISA HILANG?"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><b>KEDOM MATA LAMPUNG.COM<\/b> &#8211; Lampung, 13 Juli 2026 \u2013 Kedom Mata Lampung \u2013 Belakangan ini publik dikejutkan dengan serangkaian peristiwa saling menangkap antar lembaga penegak hukum yang bergerak di bidang pemberantasan korupsi. Kasus demi kasus bermunculan: petugas kepolisian ditahan oleh ,kejaksaan sebaliknya aparat kejaksaan ditahan kepolisian,saling serang antara lembaga penegak korupsi disorot publik\u00a0 bahkan Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di benak masyarakat: apakah dengan saling menindak sesama penegak hukum, korupsi benar-benar akan musnah? Atau justru kejahatan kerah putih itu akan tetap berlangsung, bahkan makin terselubung?<\/p>\n<p>Fenomena &#8220;perang saudara&#8221; di dunia penegakan hukum ini terlihat dari sejumlah kasus yang terekspos. Ada oknum yang dituduh memanfaatkan wewenang untuk menekan pihak lain, ada pula yang diduga berkolusi dengan tersangka korupsi demi keuntungan pribadi. Bahkan, proses hukum yang berjalan seringkali terasa saling melemahkan, bukan memperkuat upaya pemberantasan kejahatan. Padahal, tujuan utama semua lembaga itu seharusnya sama: menegakkan keadilan dan memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau penegak hukumnya sendiri saling serang dan punya niat buruk, bagaimana rakyat bisa percaya? Apakah korupsi ini cuma dijadikan alat untuk menjatuhkan lawan politik atau saingan kekuasaan saja? Kami rakyat kecil cuma bisa berharap ada keadilan yang nyata, bukan sandiwara,&#8221; ujar Bapak Suwandi, warga Bandar Lampung yang ditemui di pasar tradisional.<\/p>\n<p>Sementara itu,para pengamat hukum menegaskan bahwa meskipun saling menindak sesama aparat hukum terlihat buruk, hal itu juga bisa menjadi bukti bahwa sistem mulai bekerja\u2014namun syaratnya harus berdasarkan bukti yang sah dan aturan hukum yang jelas. &#8220;Jika didasari fakta dan keadilan, ini adalah pembersihan dari dalam. Tapi jika didorong kepentingan kekuasaan, korupsi justru akan makin subur karena perhatian terpecah dan pelakunya makin pandai menyembunyikan jejak,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p>Masyarakat juga khawatir kisruh ini membuat upaya pemberantasan korupsi kehilangan arah. Alih-alih fokus memburu koruptor yang merugikan negara triliunan rupiah, energi justru habis dipakai untuk berdebat dan saling menjatuhkan. Akibatnya, pelaku korupsi yang sesungguhnya bisa lolos begitu saja, dan kejahatan ini akan terus berlanjut dari generasi ke generasi.<\/p>\n<p>Kini, publik menanti langkah nyata: apakah kisruh ini akan berakhir dengan pembersihan yang jujur, atau hanya menjadi babak baru permainan kekuasaan? Masyarakat berharap penegak hukum bersatu demi tujuan mulia, sehingga korupsi benar-benar bisa dimusnahkan demi masa depan bangsa yang lebih bersih dan sejahtera.(HR)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KEDOM MATA LAMPUNG.COM &#8211; Lampung, 13 Juli 2026 \u2013 Kedom Mata Lampung <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/2026\/07\/13\/kisruh-antar-penegak-hukum-korupsi-saling-tangkap-apakah-korupsi-benar-benar-bisa-hilang\/\" title=\"KISRUH ANTAR PENEGAK HUKUM KORUPSI: SALING TANGKAP, APAKAH KORUPSI BENAR-BENAR BISA HILANG?\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":252,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[46],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-251","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-kota-bandar-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=251"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":254,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/251\/revisions\/254"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/252"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=251"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/kedommatalampung.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}